Kekaisaran Fengming sangat menjunjung tinggi seni bela diri, sehingga pertarungan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, di luar ibu kota kekaisaran terdapat Arena Hidup dan Mati, sebuah tempat yang dikhususkan untuk menyelesaikan dendam pribadi.
Di tempat ini, selama kedua belah pihak sepakat dan menandatangani kontrak hidup dan mati, begitu mereka naik ke atas ring, bahkan jika mereka membunuh lawannya sekalipun, mereka tidak akan dikenai sanksi oleh hukum kekaisaran.
Pada hari-hari biasa, selalu ada banyak orang yang menonton pertarungan di sini. Hari ini juga sama banyaknya. Namun, setelah beberapa duel berakhir, ketika dua sosok pemuda naik ke atas arena, keributan segera pecah di bawah.
“Bukankah orang itu Long Chen? Kenapa dia datang lagi?”
“Benar, kemarin dia baru saja hampir dipukuli sampai mati, kenapa hari ini dia datang lagi?”
“Hmph, sepertinya dia sudah tidak ingin hidup dan sengaja mencari mati di sini.”
Long Tianxiao yang bergelar Bangsawan Penakluk Jauh dihormati sebagai dewa militer. Namun, mereka yang benar-benar memanggilnya dewa militer hanyalah rakyat jelata yang terus-menerus menderita akibat kejamnya peperangan.
Sementara itu, para tokoh di ibu kota kekaisaran yang kaya raya dan berkuasa hidup dengan nyaman di zaman yang damai ini. Mereka sama sekali tidak memandang tinggi Long Tianxiao yang berasal dari kalangan rakyat biasa. Oleh sebab itu, hampir tidak ada seorang pun di seluruh ibu kota yang menaruh hormat pada Long Chen.
“Long Chen, dasar sampah! Kenapa kau kemari lagi? Bukankah ini hanya buang-buang waktu? Siapa yang sudi melihatmu bertarung, cepat enyah dari sini!”
“Benar! Kalau kau mau bunuh diri, carilah tempat sepi. Tidak ada yang mau menonton orang tak berguna sepertimu, sungguh buang-buang waktu!”
Seketika, ratusan penonton di bawah arena tak henti-hentinya melontarkan makian keras. Jelas sekali betapa muaknya mereka terhadap Long Chen.
Namun, di sebuah sudut terpencil yang tak mencolok di kejauhan, dua orang gadis bercadar sedang menatap saksama ke arah sosok di atas arena itu.
“Kakak, itukah tunanganmu? Kenapa dia terlihat sangat payah? Sama sekali tidak ada fluktuasi energi di sekujur tubuhnya,” ujar salah satu gadis dengan nada sedikit kecewa.
“Hmph, ini semua karena Ayah yang memutuskan segalanya secara sepihak. Dulu dia menjodohkanku sejak aku masih dalam kandungan, ini benar-benar membuatku mati kesal,” gerutu gadis yang lainnya dengan sangat jengkel.
Di atas arena, Long Chen sama sekali tidak menyadari bahwa ada dua gadis yang sedang mengawasi mereka. Ia juga tidak bereaksi sedikit pun terhadap cemoohan massa, hanya menatap Li Hao dengan tenang.
Li Hao menunjuk ke arah kerumunan yang berisik itu dan tersenyum sinis, “Kau lihat? Kau hanyalah sampah yang tidak diinginkan siapa pun. Kalau kau tahu diri, lebih baik kau benturkan saja kepalamu sendiri ke dinding sampai mati.”
Long Chen hanya menatapnya dengan tenang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Teng!”
Dentang lonceng berbunyi, menandakan dimulainya duel. Begitu lonceng berdentang, hidup dan mati hanya dibatasi oleh seutas garis tipis.
Kerumunan yang semula bising seketika terdiam begitu mendengar suara lonceng. Bagaimanapun juga ini adalah duel maut; tidak ada yang tahu kapan nyawa seseorang akan melayang.
“Kakak, tunanganmu itu sama sekali tidak memiliki kultivasi, padahal orang yang dihadapinya berada di ranah Pengumpulan Qi lapisan ketiga. Apa kau tidak khawatir?” tanya gadis yang pertama.
“Hmph, apa yang perlu dikhawatirkan? Kalau dia mati ya sudahlah, bukan urusanku,” dengus sang kakak. Akan tetapi, meski mulutnya berkata demikian, secara diam-diam sebuah jaring sutra yang tampak sangat aneh telah muncul di telapak tangannya.
“Hihi, katanya tidak peduli, tapi ternyata senjatanya sudah disiapkan. Sepertinya Kakak masih memedulikannya. Tapi harus kuakui, meski kultivasinya sangat payah, ketampanannya benar-benar luar biasa. Kalau Kakak tidak mau, bagaimana kalau kau serahkan saja dia padaku?” goda sang adik sambil tertawa cekikikan.
“Omong kosong! Apa hal seperti ini bisa diserahkan sembarangan? Kalau kau memang menyukainya, tunggu sampai aku membatalkan pertunangan dengannya, setelah itu terserah kau mau apa,” tukas sang kakak dengan kesal.
“Hihi.”
Di atas panggung, Long Chen tetap tenang tak tergoyahkan seperti air. Sikapnya berbanding terbalik dengan dirinya kemarin yang begitu diliputi amarah. Keduanya seolah-olah adalah dua orang yang berbeda.
“Long Chen, apa kau jadi tenang karena sadar ajalmu sudah dekat? Tenang saja, demi taruhan yang kau bawa, aku tidak akan memukulmu sampai mati hari ini,” ucap Li Hao dengan wajah bangga.
“Banyak omong kosong. Cepat serang, aku masih ada urusan lain sebentar lagi,” sahut Long Chen tak sabar.
Karena sekeliling mereka sangat hening, ucapan Long Chen terdengar jelas tanpa terlewat satu kata pun di telinga semua orang. Dalam sekejap, ledakan tawa ejekan membahana dari bawah panggung.
“Li Hao, tunggu apa lagi?! Cepat hajar bajingan itu sampai mati, dia benar-benar membuat kami muak!” jerit seseorang yang mengenali Li Hao.
Senyum dingin mengembang di bibir Li Hao. Tak ragu lagi, ia mengerahkan seluruh kekuatannya sebagai seniman bela diri ranah Pengumpulan Qi lapisan ketiga. Dengan satu tolakan kaki di lantai arena, ia menerjang ke arah Long Chen dan melayangkan tinjunya.
Begitu Li Hao meluncurkan serangannya, sorak-sorai langsung pecah dari bawah panggung. Postur Li Hao sangat rapi dan tampak sangat keren.
“Jurus yang bagus! Tinju Pohon Giok Menyongsong Angin!”
Seseorang mengenali jurus tersebut. Namun, kedua gadis di kejauhan diam-diam meludah meremehkan, seringai ejekan terlukis di balik cadar mereka.
Senyum mengejek yang sama juga terlihat di sudut bibir Long Chen: Jurus tolol yang dipenuhi celah seperti ini bisa dipakai untuk menghadapi musuh?
Melihat pukulan itu mengarah lurus ke wajahnya dengan angin yang menderu, Long Chen tampak tak acuh dan berdiri mematung.
“Haha, dasar pecundang, dia bahkan tidak tahu cara menghindar!” ejek salah seorang penonton.
Akan tetapi, baru saja ejekan itu terlontar, kepalan tangan Li Hao mendadak berhenti sejauh tiga inci di depan wajah Long Chen. Tak bisa bergerak maju seinci pun.
Orang-orang yang tadinya sibuk mencemooh seketika bungkam. Mereka melihat salah satu kaki Long Chen telah menjulur ke depan, mendaratkan tendangan telak tepat di antara selangkangan Li Hao.
Wajah Li Hao yang awalnya cerah dan penuh gaya seketika berubah warna menjadi ungu gelap seperti terong busuk. Jelas sekali, tendangan Long Chen membuatnya sangat kesakitan. Rasa ngilu yang luar biasa membuat wajahnya berkerut menderita hingga ia tak bisa bergerak sama sekali.
Dia tidak bisa bergerak, tetapi Long Chen bisa. Tepat pada momen Li Hao mematung itu, kedua tangan Long Chen mencengkeram rambut Li Hao dan menyentaknya kuat-kuat ke bawah, bersamaan dengan lutut kerasnya yang dihantamkan ke atas.
“Bugh! Bugh! Bugh!”
Gerakan Long Chen sangat memanjakan mata, dengan ritme tiap serangannya yang tergambar jelas. Paduan antara kecepatan gerak dan suara benturan menghadirkan dampak visual yang brutal sekaligus memuaskan.
Suara retak tulang yang membuat ngilu terdengar nyaring. Li Hao menerima tiga hantaman mematikan berturut-turut. Tulang hidungnya remuk melesak ke dalam, wajahnya berlumuran darah, dan ia pun langsung pingsan di tempat.
Untuk sesaat, seluruh arena menjadi senyap. Tidak ada yang menduga bahwa seorang kultivator ranah Pengumpulan Qi lapisan ketiga bisa ditumbangkan begitu cepat oleh pecundang tanpa kultivasi sama sekali.
Terlebih lagi, ia dikalahkan dengan cara yang paling telak dan efisien. Hasil ini ibarat sebuah tamparan keras yang menampar wajah orang-orang yang meremehkannya tadi.
Bahkan kedua gadis yang diam-diam menonton dari kejauhan pun tampak tercengang. Si Li Hao itu bukanlah siapa-siapa di mata mereka, mereka bisa melenyapkannya hanya dengan jentikan jari.
Tetapi Long Chen berbeda; dari awal hingga akhir, ia sama sekali tidak menggunakan Qi Spiritual sedikit pun. Ia menaklukkan Li Hao sepenuhnya menggunakan gaya pertarungan manusia biasa.
“Long Chen menang!”
Sebuah suara menggelegar dari bawah panggung. Itu adalah suara seorang lelaki tua, sang wasit yang bertugas mengawasi arena sekaligus mengumumkan hasilnya.
Dada Long Chen naik turun dengan tajam beberapa kali. Ia mengerahkan tekad yang luar biasa untuk menekan niat membunuh di hatinya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menghabisi nyawa seseorang.
Hanya saja, tekanan itu telah terpendam terlalu lama di dalam dirinya. Begitu ia meledak, amarah itu sangat sulit untuk ditarik kembali. Di mata orang luar, Long Chen seolah-olah terlihat gemetar kelelahan dan terengah-engah karena terlalu bersemangat memenangkan duel.
Long Chen melangkah turun dari arena, berjalan menghampiri wasit tua itu, mengambil kembali golok panjang yang dipertaruhkannya, dan menerima sebuah kartu kristal berisi lima ribu koin emas.
Aturan di sini mengharuskan kedua belah pihak menyerahkan taruhan kepada wasit sebelum pertandingan dimulai demi menjamin keadilan dan mencegah pihak yang kalah mengingkari janji.
Setelah mengambil golok berharga itu, Long Chen langsung mengembalikannya kepada Shi Feng, sementara kartu kristalnya ia simpan di dalam jubah. Ada riak kegembiraan di hatinya.
Meskipun lima ribu koin emas bukanlah jumlah yang fantastis, itu cukup untuk menyelesaikan beberapa kebutuhan mendesak. Atasan telah lama menahan tunjangan Keluarga Long, dan saat ini Keluarga Long benar-benar di ambang kelaparan.
Di bawah tatapan tak percaya banyak pasang mata, keduanya perlahan berlalu. Melihat Long Chen telah pergi, kedua gadis misterius itu pun ikut menghilang tanpa jejak.
Berita kemenangan Long Chen atas Li Hao menyebar dengan kecepatan kilat, menyapu seluruh ibu kota kekaisaran seketika. Banyak orang dibuat bingung; bagaimana mungkin seorang pecundang yang tidak bisa berlatih seni bela diri mendadak menjadi begitu kuat?
Namun dengan banyaknya saksi mata secara langsung, ditambah berita tentang Li Hao yang ditandu dalam keadaan babak belur kembali ke kediamannya, banyak orang terpaksa harus menerimanya meski masih tak percaya.
Setelah Long Chen dan Shi Feng pergi menjauh, Long Chen berniat membagi uang taruhan itu dengan Shi Feng, tetapi Shi Feng menolak mentah-mentah. Pada akhirnya, dengan alasan ada urusan lain, Shi Feng pamit pulang lebih dulu, bahkan tanpa repot-repot bertanya bagaimana Long Chen tiba-tiba menjadi begitu kuat.
Mengingat utang budi ini dalam hatinya, Long Chen langsung bergegas menuju ke Balai Seratus Herba. Begitu tiba, ia meminta daftar katalog ramuan obat.
Katalog itu mencatat nama dan harga berbagai ramuan dengan jelas. Long Chen melihat sebagian besar bahan untuk meramu Pil Istana Angin ada di sana. Beruntung, bahan-bahan untuk Pil Istana Angin tidaklah terlalu langka.
Namun, ketika melihat label harganya, hati Long Chen serasa menjerit perih. Seluruh koin emas miliknya hanya cukup untuk membeli tiga porsi bahan.
Ia tidak mungkin menghabiskan semua uangnya untuk bahan baku; ia masih harus membeli kuali alkimia, serta beberapa ramuan cadangan lain. Koin emas di tangannya saat ini hanyalah setetes air di lautan.
Meski begitu, ia tetap harus membelinya. Sambil mengertakkan gigi, Long Chen mengeluarkan seribu dua ratus koin emas untuk membeli kuali perunggu dengan kualitas paling rendahan.
Ia lalu membeli satu porsi bahan untuk Pil Istana Angin, sekaligus memborong banyak ramuan untuk Bubuk Pemulihan Qi. Ketika ia melangkah keluar dari Balai Seratus Herba, saldo di kartu kristalnya hanya tersisa lima ratus koin emas.
Sesampainya di rumah, Long Chen langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menginstruksikan Bao’er untuk memberi tahu semua orang agar tidak ada yang boleh mengganggunya.
Ia tahu ibunya pasti akan mendengar kabar bahwa ia pergi berduel lagi. Khawatir sang ibu akan cemas, ia sengaja meminta Bao’er untuk menahannya di luar. Lagipula, karena ia kembali tanpa kurang suatu apa pun, ibunya seharusnya tidak akan terlalu khawatir.
Saat ini setiap detik sangatlah berharga. Ia harus meningkatkan kekuatannya secepat mungkin. Masalah pelik yang menjerat Keluarga Long saat ini jauh lebih rumit daripada yang terlihat di permukaan; Long Chen telah mencium aroma krisis yang mengancam.
“Wussh!”
Sembari memutar Qi Spiritual di dalam tubuhnya, segumpal nyala api menyala di telapak tangan Long Chen. Ini adalah Api Alkimia yang berhasil dipadatkan oleh seorang alkemis. Namun, saat melihat nyala api tersebut, Long Chen tidak tahu harus tertawa atau menangis. Api ini sungguh terlampau lemah!
Api Alkimia adalah api yang diciptakan oleh alkemis dengan menggunakan Qi Spiritual mereka sendiri, dialirkan melalui jalur sirkulasi yang unik. Namun Api Alkimia yang dipadatkan oleh Long Chen sekarang suhunya sangat rendah, tak beda jauh dengan api biasa.
Lebih parah lagi, Long Chen menyadari bahwa tanpa pasokan dari Dantian, Api Alkimianya bahkan tidak mampu bertahan selama seperempat jam. Waktu yang terlalu singkat untuk bisa dipakai meramu pil.
Long Chen tersenyum kecut. Untungnya ia sudah menyiapkan rencana cadangan. Daripada memaksa membuat pil, ia terlebih dahulu memasukkan bahan ramuan untuk Bubuk Pemulihan Qi ke dalam kuali dan memurnikannya satu per satu. Untuk kali ini, ia tidak menggunakan Api Alkimia, melainkan perapian dari kayu bakar biasa.
Setelah semua proses pemurnian selesai, sebotol penuh cairan Pemulihan Qi telah tersaji di samping Long Chen. Ia beristirahat sejenak, lalu menarik napas panjang.
Kini tibalah saatnya untuk secara resmi mulai meramu Pil Istana Angin.